jump to navigation

Ke-azhar-an

Sejarah Universitas Al-Azhar

Perjalanan panjang Al-azhar yang kini jelamg usia 1033 tahun perhitungan masehi atau 1065 tahun penanggalan hijriah memang menarik di simak.sejak di bangun pertama kali pada 29 jumadal ula 359 H.(970 M.) oleh panglima jauhar Ash-shiqili lalu dibuka resmi dan shalat jum’at bersama pada 7 Ramadhan 361 H., lembaga besar yang mulanya sebuah masjid ini bagai tak pernah lelah membidani kelahiran para ulama dan cendekiawan muslim. “masjid sekaligus institusi pendidikan tertua,” itulah penghargaan sejarah buatnya.
Kelahiran Al-azhar tak bisa dipisahkan dari peran dinasti fathimi yang kala itu dipimpin oleh khalifah mu’iz li dinillah ma’ad bin Al-mansur (319-365 H.\ 931-975 M.), khalifah keempat dari dinasti fathimiyah. Jauh sebelumnya ketika islam mulai menyebar kemesir (641 M.) dimasa khalifah umar bin khatab, pendidikan islam formal sebenarnya telah berjalan sejak berdirinya mesjid pertama di afrika.
Sudah menjadi suatu kaedah tak tertulis bahwa peradaban islam disuatu daerah selau di kaitkan dengan peran masjid jami'(masjid negara) di kawasan tersebut.hal ini mungkin di ilhami dari kerja nyata rasul S.A.W, ketika hijrah kemadinah, Tugas pertama yang yang beliau lakukan adalah membamgun masjid nabawi. Ini menandakan peran masjid yang tidak hanya terbatas dengan kegiatan ritual semata. Tapi lebih dari itu, mesjid adalah sentral pemerintahan islam, sarana pendidikan, mahkamah, tempat mengeluarkan fatwa, dan sebagainya.
Hal inilah yang kemudian dilakukan oleh ‘amru bin ‘ash ketika menguasai wilayah mesir. atas perintah khalifah umar, panglima Amru bin ‘ash mendirikan masjid pertama di afrika yang kemudian dinamakan masjid ‘amru bin ‘ash di kota fushtat, sekaligus menjadi pusat pemerintahan islam mesir pada waktu itu. Selanjutnya dimasa dinasti Abbasiyah, ibu kota pemerintahan ini berpindah lagi ke kota yang di sebut al-Qatha’i dan di tandai dengan pembangunan sebuah masjid bernama Ahmad bin thoulun.
Masa demi masa berlalu, pemerintahanpun silih berganti. Tiba era daulah fathimiyah (385 H.\ 969 M.) ibu kota mesir berpindah kedaerah baru atas perintah khalifah Al-mu’iz li dinillah yang menugasi panglimanya, jauhar Ash-shiqili, untuk membangun pusat pemerintahan. Setelah melalui tahap pembangunan, daerah ini dinamai kota al-Qahirah.
Sebagaimana sejarah islam masa lalu, setiap berganti daulah selalu di tandai dengan pembangunan masjid di pusat ibu kota. Sehingga kurang setahun kemudian, beriringan dengan pembangunan kota al -Qahirah didirikan pula sebuah masjid bernama jami’ah Al-Qahirah (meniru nama ibu kota ). Seluruhnya masih dalam penanganan panglima Jauhar Ash-shiqili.
Pada masa khalifah Al-‘aziz billah, sekeliling jami’ Al-Qahirah dibangun beberapa istana yang disebut al-Qushur az-zahirah. Istana-istana ini sebagian besar berada di sebelah timur (kini sebelah barat husein), sedangkan beberapa sisanya yang kecil di sebelah barat (dekat masjid al -azhar sekarang), kedua istana dipisahkan oleh sebuah taman nan indah. keseluruhan daerah ini dikenal sengan sebutan “madinatul fathimiyin al- mulukiyah”. kondisi sekitar yang begitu indah dan bercahaya ini mendorong orang menyebut jami’al-Qahirah dengan sebutan baru, jami’ Al-Azhar (berasal dari kata zahra’ artinya : yang bersinar, bercahaya, berkilauan).
Para khalifah jauh -jauh hari menyadari bahwa kelanjutan al-azhar tidak lepas dari segi pendanaannya. Oleh karena itu setiap khalifah memberikan harta wakaf baik dari kantong pribadi maupun kas negara. Penggagas pertama wakaf bagi al-azhar dipelopori oleh khalifah Al-hakim bin Amrillah, lalu diikuti oleh para khalifah berikutnya serta orang-orang kaya setempat dan seluruh dunia islam sampai saat ini -harta wakaf tersebut kabarnya pernah mencapai sepertiga dari kekayaan mesir. Dari harta wakaf inilah roda perjalanan al-azhar bisa terus berputar, termasuk memberikan bea siswa, asrama dan pengiriman utusan al-azhar ke berbagai penjuru dunia . Dari masjid ‘amru bin ‘ash dan ahmad bin thoulun, perlahan poros pendidikan berpindah ke al -azhar.

FASE PERALIHAN

SUDAH menjadi semacam perjanjian tak tertulis, pada setiap khalifah daulah fhatimiyah selalu di adakan restorasi bangunan jami’ Al-azhar. Hingga ketika gempa hebat sempat merusak al-azhar pada tahun 1303 M., sultan An-nashir yang memerintah saat itu segera merehab kembali bangunan masjid yang rusak.
Ciri spesifik pemugaran bangunan mulai nampak pada masa Qansouh Al-ghouri (1509 M.)yang merestorasi satu menara Al-azhar nan indah dengan dua puncak (Manaratul Azhar Dzatu Ar-ra’sain). Penyempurnaan jami’ al-azhar kembali dilanjutkan pada periode daulah Utsmani, dengan kegiatan renofasi yang tak jauh berbeda seperti sebelumnya. Puncaknya dicapai pada masa Amir Abdurrahman Katakhda (wafat 1776 M.) dengan menambah dua buah menara, mengganti mihrab dan minbar baru, membuka lokal belajar bagi yatim piatu, membangun ruaq sebagai pemondokan mahasiswa dan pelajar asing, membuat pendopo ruang tamu, terasa tak beratap dalam masjid, dan tangki air tempat berwudhu’. singkat kata, hampir seluruh bangunan tua yang masih tersisa di masjid al-azhar kini adalah hasil karya Amir FASE PERALIHAN
Seiring gelombang pasang surut sejarah , berbagai bentuk pemerintahan silih berganti memainkan perannya dilembaga tertua ini. Selain sebagai masjid, proses penyebaran paham syi’ah turut mewarnai aktivitas awal yang dilakukan dinasti fhatimi. Khususnya dipenghujung masa khalifah Al-mu’iz li dinillah ketika Qadhi Qudhah Abul Hasan Ali bin Nu’man Al-Qairuwani mengajarkan fiqh madzhab syi’ah dari kitab mukhtasar yang merupakan pelajaran agama pertama di masjid al-azhar pada bulan Shafar 365 Hijriah (Oktober 975 M.).
Sesudah itu proses belajar terus berlanjut dengan penekanan utama pada ilmu-ilmu agama dan bahasa, walaupun tanpa mengurangi perhatian terhadap ilmu manthiq, filsafat, kedokteran, dan ilmu falak sebagai tambahan yang diikutsertakan. Namun semenjak shalahuddin Al-Ayyubi memegang pemerintahan Mesir (tahun 567 H/1171 M.), Al-azhar sempat diistirahatkan sementara waktu sambil dibentuk lembaga pendidikan alternatif guna mengikis pengaruh syi’ah. Disinilah mulai dimasukan perubahan orientasi besar-besaran dari mazdhab syi’ah ke mazdhab sunni yang berlaku hingga sekarang. .

FASE REFORMASI

PEMBAHARUAN administrasi pertama al-azhar dimulai pada masa pemerintahan sultan Ad-Dhahir Barquq (784 H. / 1382 M.) dimana ia mengangkat sultan Bahadir At-Thawasyi sebagai direktur pertama, ini terjadi dalam masa kekuasaan Mamalik si Mesir. Upaya ini merupakan usaha awal untuk menjadikan Al-azhar sebagai yayasan keagamaan yang mengikuti pemerintah.
Sistim ini terus berjalan hingga pemerintahan Utsmani menguasai Mesir di penghujung abad 11 H. Ditandai dengan pengangkataan “Syaikh Umumy” yang digelar dengan Syaikh Al-Azhar sebagai figur yang mengatur berbagai keperluan pendidikan, pengajaran, keuangan, fatwa, hukum, termasuk tempat mengadukan segala persoalan. pada fase ini terpilih syaikh Muhammad Al-khurasyi (1010-1101) H.) sebagai syaikh Al-azhar pertama. Secara keseluruhan ada 40 syaikh yang telah memimpin Al-azhar selama 43 periode, hingga kini dipegang oleh mantan mufti, Syaikh Muhammad Thantawi.
Masa keemasan Al-azhar terjadi pada abad 9 H.(15 M.) banyak ilmuan dan ulama islam bermunculan di Al-azhar saat itu, seperti ibnu Khaldun, Al-farisi , As-suyuti, Al-‘Aini, Al-Khawi, Abdul Latif AL-bagdadi, Ibnu Khalikqan, Al-Maqrizi dan lainnya yang telah mewariskan banyak ensiklopedi arab.

Iklim kemunduran kembali hadir ketika dinasti Utsmani berkuasa di Mesir (1517-1798 M.) Al-azhar mulai kurang berfungsi disertai kepulangan para ulama dan mahasiswa yang berangsur-angsur meninggalkan cairo. meski begitu tambahan berbagai bangunan tetap diupayakan atas prakarsa amir-amir Utsmani dan kaum muslimin sedunia.
Kepemimpinan Muhammad Ali Pasha di Mesir pada tahap selanjutnya telah membentuk sistem pendidikan yang paralel tapi terpisah, yaitu pendidikan tradisional dan pendidikan modern sekuler. Ia juga berusaha menciutkan peranan Al-azhar sebagai lembaga yang berpengaruh sepanjang sejarah, antara lain dengan menguasai badan waqaf Al-azhar yang merupakan urat nadinya. seterusnya, pada masa pemerintahan Khedive Ismail Pasha (1863- 1874) mulai diusahakan reorganisasi pendidikan, dan dari sinilah pendidikan tradisional mulai bersaing dengan pendidikan modern sekuler. Serangan terhadap pendidikan tradisional sering tampak dari usaha yang menginginkan perbaikan Al-azhar sebagai pusat pendidikan islam terpenting.
Sejak awal abad 19, sistim pendidikan barat mulai diterapkan di sekolah-sekolah Mesir. Sementara Al-azhar masih saja menggunakan sistim tradisional. dari sini mulai muncul suara pembaharuan .
Diantara pembaharuan yang menonjol adalah dicantumkannya sistem ujian untuk mendapatkan ijazah al-‘alamiyah (kesarjanaan) Al-azhar pada februari 1872. juga pada tahun 1896, buat pertama kali dibentuk Idarah Al-azhar (dewan administrasi). Usaha pertama dari dewan ini adalah mengeluarkan peraturan yang membagi masa belajar di Al-azhar menjadi dua periode: pendidikan dasar 8 tahun serta pendidikan menengah dan tinggi 12 tahun, kurikulum Al-azhar ikut diklasifikasikan dalam dua kelas: Al-‘ulum al-manqulah (bidang studi agama)dan al-‘ulum al-ma’qulah(studi umum).
Menyebut pembaharuan di Al-azhar, kita perlu mengingat Muhammad Abduh (1849-1905). Ia mengusulkan perbaikan sistem pendidikan Al-azhar dengan memasukan ilmu-ilmu modern kedalam kurikulumnya. Gagasan terssebut mulanya kurang disepakati oleh syaikh Muhammad Al-Anbabi. Baru ketika syaikh An-Nawawi memimpin Al-azhar, ide Muhammad Abduh bisa berpengaruh , berangsur-angsur mulai diadakan pengaturan masa libur dan masa belajar. Uraian pelajaran yang bertele-tele yang dikenal syarah al- hawasyi disederhanakan. Sementara itu kurikulum modern seperti fisika, ilmu pasti, filsafat, sosiologi, dan sejarah. telah menerobos Al-azhar, berbarengan dengan ini pula di renovasi ruaq Al-azhar sebagai pemondokan bagi guru dan maha siswa.
AL-AZHAR KINI
Pada abad XXI ini, Al-Azhar mulai memandang perlunya mempelajari sistem penelitian yang dilakukan universitas di barat, dan mengirim alumni terbaiknya untuk belajar ke eropa dan amerika. tujuan pengiriman itu adalah untuk mengikuti perkembangan ilmiyah di tingkat international sekaligus upaya perbandingan dan pengukuhan pemahaman islam yang benar. Cukup banyak duta Al-Azhar yang berhasil yang berhasil meraih gelar Ph.D dari universitas luar tersebut, diantaranya adalah syaikh DR. Abdul Halim Mahmud, syaikh DR. Muhammad AL-bahy, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Sebelumnya, pada tahun 1930, keluar undang-undang nomor 49 yang mengatur Al-azhar mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi dan membagi universitas Al-azhar menjadi 3 fakultas,yaitu : Syari’ah, ushuluddin, dan bahasa arab.
Fakultas induk Ayari’ah wal Qanun (hukum international) di cairo merupakan bangunan pertama yang berdiri pada tahun 1930. semula bernama fakultas Syari’ah , lalu pada tahun 1961 dirubah menjadi nama seperti sekarang. Fakultas induk ushuluddin dan bahasa arab di cairo juga didirikan pada tahun 1930, penjurusannya diatur kembali pada tahun 1961. fakultas Da’wah islamiyah didirikan dengan keputusan presiden (keppres) nomor 380 tahun 1978 yang di keluarkan pada 16 Ramadhan 1398 H. bertepatan dengan 20 agustus 1978). Fakultas Dirasat islamiyah wal Arabiyah memulai kuliahnya tahun 1965 sebagai salah satu jurusan dari faklultas Syari’ah. pada tahun 1972 keluar keppres nomor 7 yang menjadikan fakultas ini sebagai lembaga tersendiri dengan nama (Ma’had Dirasat Al-islamiyah wal Arabiyah (Institute of Islamic and Arabic Studies ). Namun, pada 1976 keluar keppres No: 299 yang kembali menjadikan institut ini sebagai fakultas tersendiri, dengan jurusan :Ushuluddin, Syari’ah islamiyah, Bahasa arab dan Sastra arab.
Angin pembaharuan kembali berhembus di Al-azhar pada 5 Mei 1961 dimasa kepemimpinan syaikh Mahmud Syaltout. Peran Syaikh Al-azhar di ciutkan menjadi jembatan simbolis sehingga kurang mempunyai pengaruh langsung terhadap lembaga pendidikan yang berada di bawah pimpinanya. Undang-undang revolusi Mesir no:103 tahun 1961. undang-undang ini memberikan kemungkinan besar perubahan srtukturil pendidikan di Al-azhar, sehingga di antaranya membolehkan lulusan SD atau SMP Al-azhar untuk melanjutkan studinya ke SMP atau SMA milik departemaen pendidikan, atau sebaliknya. dalam ruang lingkup pendidikan tinggi, disamping fakultas-fakultas keislaman, ditambahkan lagi fakultas baru seperti: Tarbiyah, Kedokteran, Perdagangan, / ekonomi, sains, pertanian, teknik, farmasi, dan sebagainya. Juga dibangun khusus fakultas untuk mahasiswi (kuliyatul banat) dengan berbagai jurusan.
Al-azhar mempunyai 3 rumah sakit unuversitas: Husain hospital, Zahra’ hosppital ,dan Bab El-Syari’ah Hospital. Sementara itu, Nasser Islamic Mission City untuk orang asing dibuka pada bulan september 1959.
Universitas (jami’ah ) Al-azhar hanyalah sala satu lembaga resmi yang dimiliki Al-azhar, masih ada lembaga lain yang sempat terbentuk, seperti:
· lembaga pendidikan dasar dan menengah (Al-Ma’ahid Al-Azhariyah)
· Biro kebudayaan dan missi islam (Idarah Ast-Tsaqafah wal Bu’uts al-islamiyah)
· Majlis tinggi Al-azhar (Majlis Al-a’la lil azhar )
· Lembaga riset islam (Majma’ Al-buhuts Al-islamiyah).
· Hai’ah Ighatsah Al-islamiyah
Sejak mula berdirinya, studi di Al-azhar selalu terbuka untuk semua pelajar dari seluruh dunia, Hingga kini Universitas Al-azhar memiliki lebih dari 50 fakultas yang tersebar di seluruh pelosok Mesir. itulah potret Al-azhar yang tetap tegar dalam kurun usia senja.

KEHIDUPAN MAHASISWA INDONESIA DI KAIRO

Ada sekitar 3.000 mahasiswa Indonesia di Kairo Mesir, dan umumnya mereka menjadi mahasiswa Universitas al-Azhar, meskipun masih ada universitas lain, seperti Universitas Ainun Syams, Universitas Kairo (Jami’ah Qahira), dan the American University in Cairo. Bahkan meskipun masih banyak universitas di luar Kairo, seperti Universitas Zagoziq, Universitas Almenia, dan lainnya, jarang sekali mahasiswa Indonesia tertarik belajar di luar Universitas al-Azhar.

Tulisan singkat ini berusaha menjawab secara singkat pula pertanyaan; bagaimana kondisi Universitas al-Azhar, mengapa mahasiswa Indonesia memilih Universitas al-Azhar, dan bagaimana kehidupan mahasiswa Indonesia di kota Kairo. Kuliah di Universitas al-Azhar dipisahkan dan berdiri sendiri kelas untuk laki-laki dan kelas untuk perempuan. Maka muncul sebutan kuliah li al-Banân, kuliah untuk mahasiswa (laki-laki), dan kuliah di al-Banât, kuliah untuk mahasiswi (perempuan). Universitas al-Azhar di Kairo mempunyai 14 fakultas untuk banân/mahasiswa, dan 7 fakultas ditambah satu jurusan untuk banât/mahasiswi. Masih banyak fakultas di cabang-cabang al-Azhar yang terletak di beberapa kota sekitar Kairo, seperti al-Zagoziq, Tanta, al-Mansurat, dan Asyût. Fakultas-fakultas untuk laki-laki di Kairo adalah: (1) Ushuluddin, (2) Al-Syari’ah wa al-Qanun (Syari’ah dan Perundang-Undangan), (3) al-Lughah al-’Arabiyah (Bahasa Arab), (4) al-Dirâsât al-Islamiyah wa al-’Arabiyah (Studi Islam dan Arab), (5) al-Dakwah al-Islamiyah, (6) al-Tijârah (Ekonomi/Bisnis), (7) al-Tarbiyah (Ilmu Pendidikan), (8) al-Lughah wa al-Tarjamah (Bahasa dan Terjemah), (9) al-Tib (Kedokteran), (10) al-Saidalah (Apotik), (11) al-Tib al-Asnân (Kedokteran Gigi), (12) al-Handasah (Teknik), (13) Al-Ulum (Sains), dan (14) al-Zirâ’ât (Pertanian). Sementara untuk perempuan (banât/mahasiswi) adalah: (1) al-Dirâsât al-Islamiyah wa al-’Arabiyah (Studi Islam dan Arab), (2) al-Dirâsât al-Insanîyah (Humaniora), (3) al-Tijârah (Ekonomi/Bisnis), (4) Al-Tib (Kedokteran), (5) al-’Ulum (Sains), (6) al-Saidalah (Apotik), (7) Al-Tib al-Asnân (Kedokteran Gigi), ditambah Jurusan Sains.

Kemudian di beberapa cabang al-Azhar ada beberapa fakultas dan/atau jurusan. Cabang-cabang dimaksud adalah Tanta, Mansurat, Zagoziq. Sementara dari sisi lokasi, Universitas al-Azhar yang ada di Kairo terletak di dua tempat, yakni di Husein, sebagai kampus lama, dan di Maqtal Sadat (tempat pembunuhan Sadat) sebagai kampus baru.

Meskipun sama-sama Universitas al-Azhar, kedua lokasi ini mempunyai perbedaan. Di kampus lama hanya ada Fakultas Agama, yang meliputi Fakultas al-Syari’ah wa al-Qanûn, Ushuluddin, dan Bahasa Arab (al-Lughah al-’Arabîyah). Sementara di kampus baru, di samping ada al-Dirâsât al-Islamiyah wa al-’Arabiyah (studi Islam dan Arab), al-Dakwah al-Islamiyah, dan al-Tarbiyah (Ilmu Pendidikan), sebagai fakultas agama, ada fakultas umum. Fakultas Syari’ah dibagi menjadi dua jurusan, al-Syari’ah al-Islamiyah dan al-Syari’ah wa al-Qanun. Sementara Fakultas Ushuluddin meliputi empat jurusan, Tafsir, Hadis, Dakwah, dan Aqidah & Filsafat. Fakultas Bahasa Arab mempunyai jurusan; jurusan umum, sejarah, budaya, publikasi/komunikasi & Iklan. Adapun sistem perkuliahan yang dipakai umumnya masih menggunakan sistem ceramah dan sistem tingkat. Maksud sistem ceramah adalah, mahasiswa belajar dengan jalan mendengarkan ceramah dari dosen di kelas yang jumlah mahasiswanya ratusan untuk kelas-kelas tertentu, bukan sistem kelas kecil dan dialogis, bukan pula mahasiswa membuat makalah untuk didiskusikan. Kehadiran mahasiswa di kelas tidak menjadi perhitungan untuk kelulusan. Konon kalau mahasiswa hadir semua, kelas yang tersedia tidak cukup menampung mahasiswa. Maka kelulusan ditentukan oleh murni hasil ujian. Perlu dicatat, setiap dosen menyediakan diktat kuliah. Maksud sistem tingkat adalah, kelulusan mahasiswa diukur berdasarkan tingkat, bukan jumlah satuan kredit semester (SKS). Maka mahasiswa yang lulus seluruh mata kuliah di satu tingkat akan naik ke tingkat berikutnya, sementara mahasiswa yang gagal harus mengulang lagi di tingkat yang sama dan dengan mengambil mata kuliah yang sama pula. Dengan catatan ada toleransi. Bahwa mahasiswa tetap naik ke tingkat berikutnya kalau hanya 2 mata kuliah yang tidak lulus, dengan syarat 2 mata kuliah tersebut harus diulang. Sementara mahasiswa yang gagal lebih dari 2 mata kuliah berarti harus mengulang seluruh mata kuliah yang ditempuhnya di tingkat yang sama.

Adapun mahasiswa Indonesia umumnya, untuk tidak mengatakan seluruhnya, kuliah di 2 fakultas, Syari’ah dan Ushuluddin. Di dua fakultas inipun terbatas di jurusan Syari’ah Islamîyah untuk Fakultas Syari’ah, dan jurusan Tafsir dan Hadis untuk Fakultas Ushuluddin. Ketika beberapa mahasiswa Indonesia ditanya alasannya, adalah karena di luar dua jurusan tersebut terlalu sulit bagi mahasiswa Indonesia. Tentang tempat tinggal, mahasiswa Indonesia umumnya tinggal di luar asrama al-Azhar dan memilih tinggal sesama mahasiswa Indonesia. Bahkan beberapa daerah mempunyai asrama daerah yang pembangunannya dibantu oleh pemda setempat, seperti Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Sementara mahasiswa yang tinggal di asrama al-Azhar juga tinggal satu kamar dengan mahasiswa Indonesia, meskipun bertetangga dengan mahasiswa internasional lain dari berbagai negara. Ketika ditanya mengapa tidak satu kamar dengan mahasiswa internasional lainnya, adalah karena mempunyai kebiasaan yang berbeda. Misalnya mahasiswa Afrika mempunyai kebiasaan berbicara keras-keras, kalau nonton sepakbola kadang bersorak, dan kebiasaan-kebiasaan lain yang tidak sejalan dengan kebiasaan Indonesia.

Adapun perbandingan jumlah mahasiswa, bahwa mahasiswa Indonesia menjadi mayoritas apabila dibandingkan dengan mahasiswa negara lain, baik dari Asia; Asia Tenggara dan Asia Tengah, maupun Afrika. Setelah Indonesia, untuk wilayah Asia Tenggara ditempati masing-masing oleh Malaysia, Thailand, Philipina, Brunei, Kamboja, Vietnam, Burma, dan Singapore. Hanya saja ada perbedaan antara mahasiswa Indonesia dengan mahasiswa Malaysia dan Brunei. Kalau mahasiswa Indonesia berhak mendapatkan beasiswa dari al-Azhar, sementara mahasiswa Malaysia dan Brunei tidak berhak. Alasannya adalah, mahasiswa Malaysia dan Brunei oleh pemerintah Mesir dimasukkan kelompok negara kaya. Bahkan beasiswa yang diterima mahasiswa Indonesia pun jauh lebih kecil dari yang diterima mahasiswa Malaysia dan Brunei. Lebih mengecewakan lagi konon, kalau mahasiswa Indonesia mencari tempat tinggal selalu menawar harga, sementara mahasiswa Malaysia dan Brunei langsung membayar tanpa pernah menawar. Konon kondisi keuangan mahasiswa Indonesia dengan segala konsekuensi tersebut, memberikan implikasi pada perlakuan orang Mesir kepada mahasiswa Indonesia.

Oleh: Prof Dr Khoiruddin Nasution, Guru Besar Fakultas Syari’ah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan sedang Visiting Profesor di Mesir.

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: