jump to navigation

Oasis Siwa di Mesir Februari 10, 2010

Posted by alumnialazhar in Ke-Mesir-an.
trackback

Pohon-pohon palem yang rimbun di sepanjang Oasis Siwa menyimpan sejarah penting sehingga mereka yang bersedia mengadakan perjalanan jauh dan panas melintasi gurun ini pasti akan sangat menghargai keberadaannya.

Secara sepintas lalu, Siwa, oasis Mesir yang paling sulit dicapai, berada di tengah-tengah Gurun Barat, 31 mil dari perbatasan Libya, dikelilingi oleh hamparan bukit-bukit pasir Great Sand Sea, dan dataran tinggi batu gamping Middle Miocene.

Siwa masih tetap merupakan tempat terpencil yang indah dan penuh misteri. Cerita-cerita gaib mengenai jin-jin pada cerita Seribu Satu Malam di Arabia akan dengan sangat mudah untuk dibayangkan keberadaannya di bawah langit malam surga gurun ini.

Kota dan pedesaan yang berada di sekitar oasis tersebut adalah pemukiman rumah yang dihuni lebih dari 20.000 penduduk di mana mayoritas penduduknya adalah etnis Berber yang berbicara dalam bahasa daerah Tasiwit, yang juga dikenal dengan Siwi.

Populasi penduduk lokalnya dibagi atas sembilan suku, yang diatur oleh masing-masing kepala sukunya. Kejahatan yang dilakukan penduduk Siwa ditangani dengan aturan suku setempat, yang menurut penduduk Siwa, hal ini untuk mencegah campur tangan dari pemerintah Mesir.

Sebagai contoh dari hukuman yang dijatuhi oleh salah seorang kepala suku adalah seorang diperintahkan berpuasa selama sebulan lagi ke depan setelah puasa Ramadhan yang dijalaninya, dan hal ini biasanya akan dipatuhi di seluruh Mesir.

Siwa juga merupakan sebuah rumah pagi para penulis cerita, disebut juga hakawati dalam bahasa Arab, yang menciptakan dan secara lisan meneruskan cerita petualangan berbau mistik, jin-jin dan sihir.

Cerita-cerita ini tidak hanya untuk menghibur, tetapi juga ditujukan untuk meneruskan ajaran dan pesan-pesan moral. Di dalam tradisi Shahrazad, untuk menceritakan satu cerita dapat berlanjut hingga berhari-hari bahkan berminggu-minggu.

Karena Siwa masih merupakan tradisi kesukuan kuno, adalah sangat  umum bagi seorang gadis untuk menikah di usia muda seperti 14 tahun.

Setelah menikah, kaum perempuan suku Siwa setempat hampir tidak pernah terlihat keluar dari rumah tanpa menggunakan kerudung kepala penuh yang terbuat dari sifon hitam, yang digunakan untuk menutupi seluruh kepala dan wajah.

Meskipun para wisatawan dan beberapa orang asing yang tinggal di Siwa menggunakan pakaian model Barat mereka yang umum, mereka tetap merupakan sebuah komunitas yang konservatif.

PUING: Kuil Amum di Siwa adalah tempat di mana ‘Alexander the Great’, yang dipercaya sebagai putra dari Dewa Mesir, mendapatkan pengesahan atas daerah Asia hasil taklukannya ribuan tahun yang lalu. (ANNA SKIBINSKY/THE EPOCH TIMES)

Sifat spesial Siwa yang misterius, nampak ada di mana-mana, namun sulit dikenal. Mungkin saja karena Siwa adalah sebuah kepulauan yang dipenuhi dengan tumbuhan hijau, udara segar dan air murni, dan ia merupakan kehidupan di tengah-tengah ratusan mil gurun pasir yang gersang dan menghanguskan.

Bagaimanapun juga, tidaklah mengherankan apabila oasis indah yang terpencil ini pernah menjadi salah satu tempat dari oracle (sabda dewa) yang paling berpengaruh di dunia yang lampau.

Kuil oracle atau yang biasanya disebut Kuil Amun, diambil dari nama seorang Dewa Mesir, masih tegak berdiri, meskipun kebanyakan telah menjadi puing-puing kecuali yang tersisa hanyalah tembok ruang utama.

Menurut para pengunjung, seseorang yang melangkah ke dalam akan mendapatkan suatu atmosfir yang benar-benar berbeda dari lingkungan dengan konstruksi Berber yang dibangun setelahnya dan yang telah menjadi puing saat ini.

Desas-desus diantara penduduk Siwa  setempat mengatakan bahwa beberapa turis telah tidak dapat memasuki Kuil  itu karena kemampuan paranormal yang mereka pancarkan dari dalam.

Berdasarkan bukti arkeologi, Kuil Amun diperkirakan sudah berdiri sejak abad ke-7 SM dan telah menyaksikan banyak raja-raja dan orang-orang besar yang  mengambil risiko untuk melakukan perjalanan berbahaya menempuh gurun pasir untuk menerima ramalan oracle di sana.

Oracle Siwa menjadi kuat dan berpengaruh, yang menyatakan bahwa pada abad ke-525 SM, raja Cambyses, penguasa Persia pertama atas Mesir, akan mengirimkan 50.000 pasukan tentara untuk merebut daerah itu dan menggulingkannya, dan karena ia telah memprediksikan kematiannya.

Sebagai konsekuensi atas usaha invasinya, seluruh pasukan menghilang di tengah Gurun Barat tanpa jejak. Bukti tentang nasib dari para pasukan-pasukan tersebut tidak ditemukan sampai dengan hari ini. Meskipun dalam tulisan yang ditinggalkan oleh Herodus, sejarahwan Yunani dinyatakan mungkin saja telah terjadi badai pasir yang telah menelan semua pasukan beserta seluruh pakaian perang dan perlengkapan yang mereka bawa.

Jarang terpikir oleh kita, mengapa pada 331 SM, Alexander Agung, raja Romawi, si pencari kemasyuran itu pergi untuk berunding dengan oracle Siwa.

Ia pergi untuk memastikan apa yang telah ia putuskan untuk dirinya sendiri—bahwa ia adalah seorang keturunan langsung dan putra Dewa Amun, yang juga dikenal sebagai Dewa Zeus atau Jupiter oleh bangsa Yunani.

Diantara semua orang yang mengunjungi Siwa, ia adalah orang yang paling terkenal dan jika bukan karena dirinya, mungkin saja oasis tersebut telah hilang dari sejarah.

Alexander telah meninggalkan kejayaan bagi Siwa. Tak peduli apa pun yang telah dibisikkan  oleh oracle itu kepadanya, hal ini telah menuntunnya untuk mempercayai bahwa ia memang benar, dengan begitu telah mendorong nalurinya untuk menaklukan Asia. (Anna Skibinsky/The Epoch Times/mer)

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: