jump to navigation

Dua Rumah Allah di Mesir Februari 10, 2010

Posted by alumnialazhar in Ke-Mesir-an.
trackback

Di Mesir mempunyai banyak fungsi, dari tempat wisata hingga tempat berkeluh kesah.

Julukan sebagai Negeri Seribu Menara rasanya memang amat pantas disandang Kairo, Mesir. Di segala penjuru kota yang kering berdebu itu, menara-menara masjid tampak menjulang menuding langit. Masjid memang menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidup orang Mesir yang begitu kental memegang nilai-nilai Islam.

Dari begitu banyak masjid yang menyimpan sejarah, Masjid Hussein, Masjid Al-Azhar, Masjid Amr ibn al-`Ash dan Masjid Muhammad Ali adalah 2 masjid yang pantang untuk tidak dikunjungi. Dari jauh bangunannya yang kokoh namun anggun itu tampak begitu menarik hati. Dan begitu masuk ke dalamnya, hawa dingin langsung menyerbu dan menenteramkan. Hati pun tergetar, mengingat betapa sebuah bangunan selama ratusan tahun merangkum suka, duka, harapan dan cinta manusia kepada Yang Maha Kuasa.

Masjid Al Azhar
“Tempat tebaran ilmu yang inklusif”

Siang di penghujung Mei itu, matahari awal musim panas bersinar garang. Kawasan El-Hussein, yang termasuk kota tua Kairo, begitu sibuk. Orang lalu lalang, mobil-mobil berlari kencang, lalu tiba-tiba ada yang berhenti seenaknya di pinggir jalan. Suasana yang sungguh bisa membikin emosi cepat panas.

Tepat di El-Hussein Square, mata saya tertumbuk bangunan megah berbentuk segi empat berwarna coklat yang begitu kokoh. Lima menaranya yang mengelilingi kubahnya meruncing ke atas. Itulah Masjid Al-Azhar yang terkenal itu. Mungkin, saat itu mata saya sudah berbinar saking senangnya dan tak sabar untuk segera melesat ke masjid yang dibangun pada 970 masehi, atau tak lama setelah kota Kairo berdiri.

“Mbak, ayo kerudungnya dipakai sekarang,” ujar Imam Wahyuddin, mahasiswa Universitas Al-Azhar yang menemani saya saat kami sudah sampai dekat pintu samping, yang letaknya tak jauh dari pintu masuk Universitas Al Azhar. Segera saya ambil sehelai pasmina dari tas untuk menutupi rambut saya rapat-rapat sebagai aturan wajib bagi wanita yang akan memasuki masjid yang dibangun oleh Jahwar Al-Shiqillilah, panglima perang ke-4 Dinasti Fatimiyyah untuk menghormati Fatimah Az-Zahraa, putri Nabi Muhammad SAW.

Di dekat pintu, ada seorang pria tua berjubah putih duduk di kursi kayu. Di tangannya teruntai tasbih warna hijau muda. Sekilas saya meliriknya, dan terkejut saat menemukan kedua matanya tajam menatap saya. Tanpa sadar, saya segera membenahi letak kerudung dan merapikan pakaian untuk memastikan apakah semuanya sudah pantas. Ah, tak tahunya, tatapan itu mengingatkan agar saya segera mencopot alas kaki, seperti layaknya kalau kita akan masuk ke masjid. Mungkin dia khawatir saya akan nyelonong tanpa membuka alas kaki, pikir saya tak kuasa menahan senyum.

Cesss… hawa adem langsung menerpa wajah saya begitu memasuki bangunan utama masjid atau bait ash-shalah. Hawa segar itu bahkan lebih mujarab mengusir panas ketimbang segelas tamar hindi (air asam) dingin yang saya beli di pinggir jalan tak jauh dari masjid. Saya mendongak dan mencari-cari apakah ada alat pendingin udara di sana, saya tak menemukannya. Mungkin, kesejukan itu berkat sistem ventilasi yang baik, begitu saya mengira-ngira. Penerangan dibantu oleh lampu-lampu yang menyala.

Di dalam sana, orang-orang duduk menyemut di atas lantai berkarpet, di antara pilar-pilar masjid yang diameternya nyaris sepelukan anak kecil. Ada yang duduk bersandar setengah mengantuk, ada yang duduk berkelompok kecil sambil asyik mengobrol dengan suara rendah, dan yang paling banyak adalah mahasiswa Al-Azhar yang sedang belajar. Mereka duduk di segala sudut masjid berteman tebaran buku di depannya. Maklum, Mei adalah musim ujian sehingga, masjid itu menjadi tempat yang sangat nyaman untuk membaca diktat kuliah.

Imam tidak membolehkan saya duduk di masjid ini. “Wanita tidak terbiasa duduk di masjid ini,” katanya sambil mengajak saya terus berjalan mengelilingi. Saya tengok kanan kiri, siang itu, rasanya memang hanya saya manusia berjenis kelamin wanita. Saya lalu beranjak menuju mihrab masjid.

Di depan mihrab ini, tampak beberapa mahasiswa Al-Azhar berwajah Melayu yang memandang saya, lalu tersenyum. Tapi, suasana yang khuyuk membuat saya segan mengajak ngobrol. Bila suasana masjid begitu kental dengan aura keilmuan itu memang hal wajar. Dinasti Fatimiyyah membangun masjid ini memang bertujuan sebagai pusat pembinaan umat Muslim dan kajian ilmu agama. Aktivitas keilmuan di sinilah yang menjadi cikal bakal Universitas Al-Azhar, yang berdiri tepat di belakangnya. “Bila Ramadhan tiba, seusai sholat Dhuhur, Asyar dan Isya selalu digelar kultum atau kuliah tujuh menit,” terang Imam.

Saat awal berdirinya, masjid ini berbentuk bangunan terbuka di tengahnya (dalam bahasa Arab di sebut shahn), yang dibatasi oleh lengkung-lengkung lancip. Ruangan terbuka itu hingga kini masih ada, meski sudah banyak terjadi penambahan bangunan sehingga luasnya menjadi dua kali lipat. Lantainya yang terbuat dari batu marmer putih itu mengilat menyilaukan oleh cahaya terik matahari siang.

Kami lalu beranjak ke pintu utama yang disebut pintu Al-Muzayyinin melewati sayap kanan yang merupakan bangunan memanjang yang terbagi atas berberapa ruangan. Bangunan itu disebut Madrasah Al-Aqbaghawiyah yang dibangun tahun 1339 saat Dinasti Mamluk berkuasa. Dan di salah satu ruangan itu, saya melihat seseorang duduk di kursi dengan banyak orang duduk di lantai mengelilinginya. Tak hanya pria, banyak juga wanita di sana. Beberapa di antaranya memakai cadar.

“Itulah yang disebut talaqqi,” kata Imam. Talaqqi adalah sebutan untuk kajian Islam yang dibawakan oleh seorang Syeikh kepada para pendengarnya (murid-muridnya). Karena teringat Fahri, tokoh utama dalam novel Ayat-Ayat Cinta yang rajin talaqqi, saya jadi ingin masuk untuk merasakan sendiri seperti apa, sih, rasanya talaqqi di Al-Azhar.
Karena dibawakan dalam bahasa Arab, tentu saja saya hanya bersandar pada penjelasan Imam. Siang itu, sang Syeikh berjenggot panjang dan berjas abu-abu itu mengupas tentang Imam Syafi’i, salah satu mazhab besar dalam Islam.

Ketika asyik mendengarkan terjemahan bebas dari Imam itu, tiba-tiba punggung saya ditepuk. Segera saya menoleh dan melihat seorang wanita berjilbab panjang coklat gelap menempelkan telunjuknya di bibir, sebagai isyarat agar kami diam. Pasti dia terganggu oleh suara-suara kami, meski kami sudah menyetel suara sepelan mungkin. Tak lama kemudian, kami pun keluar ruangan.

Sampai di pintu utama Al-Muzayyinin, saya kembali memendang ke arah dalam. Tepat berhadapan langsung dengan pintu –melewati ruangan terbuka (shahn) berlantai putih itu- saya melihat kembali bait ash-shalah (bangunan masjid yang asli) yang sudah saya jelajahi tadi.

Tak lama kemudian, satu rombongan turis Barat datang, dan berjalan menyeberang shahn, menuju bait ash-shalah. Dalam rombongan itu, ada seorang wanita yang hanya berkaus dan menutupkepalanya dengan handuk kecil. “Dibandingkan masjid lain di Mesir, Al Azhar termasuk inkusif, yang masih menoleransi turis yang masuk dengan hanya bercelana pendek atau yang hanya menutup rambutnya dengan handuk saja,” ujar Imam sambil mengajak saya keluar dari pintu utama yang kukuh dilindungi tembok tinggi dari batu keras coklat di kanan kirinya.

Masjid Shalahuddin Citadel
“Mozaik Turki yang mempesona”

Bola-bola lampu yang bersinar sendu itu seakan melayang membentuk lingkaran besar. Di tengah-tengah lingkaran cahaya itu, tampak chandelier (lampu gantung) besar yang kesan antiknya tak bisa ditutupi. Lampu-lampu kristal mungil yang menyusun chandelier itu bersinar redup, berbaur dengan cahaya matahari siang yang menerobos masuk dari pintu masuk dan jendela-jendela penuh kaca patri berwarna merah, biru, jingga dan hijau.

Siang itu, saya duduk di atas lantai berkarpet merah lusuh dan berdebu Masjid Shalahuddin. Konon, sebagian karpet yang tergelar di lantai masjid itu masih asli sejak masjid itu dirikan. Masjid ini sebetulnya bernama AL-Marmari, dan dibangun oleh Muhammad Ali Pasya untuk mengenang kematian putranya pada 1830. Tetapi, karena terletak di kawasan citadel (benteng Shalahuddin), Al Marmari juga dikenal dengan nama Masjid Shalahuddin.

Citadel Shalahuddin sendiri dibangun oleh Shalahuddin Al-Ayyubi pada tahun 1183 masehi. Panglima Shalahuddin yang terkenal sebagai pahlawan tentara Muslim saat perang Salib itu membangun benteng ini untuk melindungi Kairo dari serbuan prajurit Salib. Masjid Al-Marmari ini terletak di sebelah utara, tepatnya di puncak benteng. Mesjid ini mengambil arsitektur ala Turki Ottoman. Kubahnya setinggi 52 m dengan dua buah menara menjulang setinggi 84 m.

Tak tertahankan lagi, kepala saya terus menerus mendongak, ke bagian dalam kubah besar di atas sana. Kubah itu penuh mozaik dengan susunan motif rumit seperti sulur-sulur dan berbentuk bunga-bunga dengan warna biru yang dominan berbaur dengan kuning kunyit, putih juga aksen merah. Di sekeliling kubah utama ada 4 kubah yang lebih kecil dengan hiasan motif yang serupa kubah utama. Juga ada empat lagi kubah setengah lingkaran. Sebuah pemadangan yang menakjubkan.

Seluruh dinding, lantai dan pilar-pilar masjid ini terbuat dari marmer putih kecoklatan yang tampak menua oleh usia. Di sepanjang koridor sisi kanan kiri dihiasi tiang-tiang kokoh. Lampu-lampu menggantung dari atap sepanjang koridor.

Bila Anda masuk, di depan pintu dua petugas menyediakan kantung plastik untuk menyimpan sepatu Anda. Seperti halnya Masjid Hussein, pengunjung wanita yang tidak berjilbab diharuskan mengenakan jubah longgar panjang warna biru muda untuk menutup tubuh.

Berbeda dengan Masjid Al-Azhar, masjid ini kini sudah menjadi obyek wisata. Saya tidak menemukan lagi aktivitas religi di sini, semua yang datang adalah pelancong yang dengan antusias mengagumi kejayaan masa lampau. Dan karena berada di puncak yang tinggi, saya bisa menyaksikan kota Kairo yang membujur di bawah. Bahkan, samar-samar saya bisa menangkap bayangan pramid Giza yang jaraknya sekitar 22 kilometer dari pusat kota Kairo.

[Yoseptin Pratiwi]

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: